back to Jakarta

Setelah hampir 3 bulan balik ke surabaya, akhirnya di akhir tahun 2010 ini aku berangkat lagi ke Jakarta.  Ibukota yang penuh sesak dengan kekejaman, kepedihan, kekerasan, persaingan, serta manisnya sebuah kesuksesan.

ini kali ke lima keberangkatanku, yang mana sebelumnya sudah terhitung empat kali aku menginjakkan kakiku di kota ini, terhitung mulai awal 2010.

tak terbayangkan sebelumnya aku bisa datang di kota ini sebagai tamu yang tak pernah diundangnya…, layaknya seorang anak yang tersesat di dalam kerumunan banyak orang dengan keberagaman, hanya terdiam di balik terminal kereta api yang menurunkan ku. terlihat sebuah bangunan berdiri kokoh dan menjulang tinggi didepan ku, dengan pucuk kuning yang setelah aku tau itu menyerupai kobaran api.

apa itu..? tak bisa bertanya-tanya lagi.. dengan penuh keyakinan apa benar ini monas..! monumen nasional…! sembari berlari mendekatinya aku semakin yakin dengan jawabanku tadi.. iya benar ini monas, tepat seperti gambar di jajan dengan sebutan MONAS.

tak berlama.. aku mengitarinya… mencoba mengamati dengan perasaan yang begitu tak bisa diungkapkan (saking girangnya) tak terasa jauh aku mengitarinya.. aku kembali di tempat ku berdiri semula…

hah.. dimana pintu masuk nya..! sambil tetap berdiri berputar dan terus memandang sekitarku..! hanya dengan perasaan bertanya-tanya tanpa ada jawab aku kemudian terdiam….!

kakiku mulai tergerak dan langkah2 kecil dengan sorot mata memandang tetap pada bangunan tinggi itu.. akhirnya kuberanikan bertanya pada orang yang sebelumnya aku pun tak mengenalnya…

“permisi Pak..! mau nanya.. pintu masuknya di sebelah mana ya..?”

dengan senyum dijawabnya pertanyaanku “owh abang mau masuk monas? itu disebelah utara pintu masuknya..!” sambil menunjuk pada sebuah lorong beliau memberitahuku jalan masuknya..

“iya Pak, saya mau masuk monas..! jadi dilorong itu ya Pak pintu masuk nya..! ok Pak terima kasih banyak ya..”

tak berlama-lama bergegas aku menuju lorong tersebut… dan aku jumpai sebuah loket penjual karcis masuk. kemudian aku membeli satu tiket dengan harga yang sangat terjangkau (Rp. 3.000,-) masuklah aku dengan perasaan yang penuh dengan rasa penasaran. dan tiba di ujung lorong aku temui sebuah bangunan yang sangat luas… yah inilah lantai dasar dari MONAS.

Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru di masa pemerintahan Suharto.

Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu “Padamu Negeri” diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s