KISAH UDIN DAN SHALAT DHUHA

Si Udin garuk-garuk kepada tidak pusing, kepalanya menoleh kanan dan kekiri, melihat kendaraan lalu lalang. Ya pagi itu dia habis naik kereta, kemudian kehilangan dompet ditasnya, entah diambil siapa dia mengeluh karena kurang waspada dengan tangan-tangan jahil, walau gimana kejadiannya si Udin sudah memastikan copet, kemudian dia iseng meraba tasnya, kali saja ada uang tersisa karena saat ini dia sedang kehabisan dana, untuk bisa meneruskan kekantornya.

Ketika tangan meraba kantong tas tempat meletakkan dompet yang barusan hilang, dia terkejut ternyata ada lubang disana, ya ternyata tasnya jebol alias bolong, mungkin karena minggu kemarin dia pulang kampung bawa penuh barang-barang yang membebani tasnya..

Waduuh.. Dompetnya pasti ngelos karena tasnya robek, Ujar Udin. Ternyata dari tadi dia ngedumel nyalahin copet, ternyata ia tersadar karena sbenarnya pencopet tidak bikin salah kepadanya.. Wah suudzon nih sama copet ujar Udin nyengir. Kemudian dengan langkah gontai dia menelusuri kembali stasiun kereta, berniat pulang saja, nunggu kereta yg balik menuju stasiun pulang kerumahnya siapa tahu bisa gratis fikirnya ..karena kehabisan uang, perjalanan kekantor baru setengah jalan lagi, jadi otomatis hari itu dia niatan bolos, karena keadaan kan darurat begitu fikirnya.

Diperjalanan sepanjang stasiun matanya menatap sebuah Musholla yang bersih dan terawat

Sejenak si Udin menatap Mushola yang terlihat bersih, dan asri ia terpesona terhadap kebersihannya. Wah, Adem juga itu musholla, indahnya kalau saya rebahan dulu disana kali..Ucap udin sambil melangkahkan kakinya ke Musholla yang terletak dipinggir Stasiun. Kemudian ketika ia akan memasuki pintu pagar Musholla, tiba-tiba si Udin menabrak sesuatu..Gubrak, Udin kaget ternyata ia menabrak seorang kakek yang sedang membawa kantung uang dan uangnya jatuh berserakan akibat insiden tersebut. Sontak kejadian itu menarik perhatian orang-orang disekelilingnya, abang beca, tukang ojek, mbok jamu, satpam, pegawai, ibu-ibu, mereka kaget dan menatap si udin dengan pandangan yang tidak bersahabat.

Udin langsung gak enak hati, ia buru-buru membantu sikakek bangun dari duduknya, sembari meminta maaf atas ketidak sengajaannya. Dirinya ngedumel menyalahkan diri, kenapa ia tidak waspada dan bisa-bisanya gak sadar nabrak sikakek. Maklumlah orang yang banyak pikiran, begitu adanya terlalu fokus, coba fokus ke Allah, fokus nyari redhonya semua serba bawaan hati jadi enteng ibadah, enteng sedekah, enteng ngaji sama zikiran, bawaan tenang inilah yang belum dimiliki si Udin karena bawaannya ngedumel sejak dompetnya yang malang hilang entah kemana.

Sesaat Udin membantu sikakek, sejenak itu ia bertemu pandang pada wajah sikakek dan ia langsung terpana karena sikakek rada mirip guru film karate kid yang ia tonton saat sekolah dasar, kakek yang imut dan berwibawa.

Ooh maaf kek, saya tidak sengaja..Ujar Udin dengan wajah memelas walau perutnya tidak mulas.

Si kakek tersenyum teduh, ia berujar dengan ucapan menyejukan, Ndak apa-apa cucu, ini sudah takdir, Allah mempertemukan kita dengan cara-Nya..

Sikakek bangkit, Udin langsung membereskan uang sikakek yang berserakan dijalan, saat memungut ia sedih saat dirinya kehabisan uang, ia harus memungut uang yang bukan miliknya, dari pengemis pula lagi, disaat ia bokek mendadak, butuh ongkos pulang karena dompet yg hilang.. kemudian usai ia merapihkan kantong uang sikakek ia memberikannya kembali, disambut dengan senyuman yang teduh pula tanpa kekesalan, si Udin menjadi semakin gak enak hati sama sikakek

Beberapa tukang ojek yang marah dengan kejadian itu, mereka menghampiri TKP (Tempat kejadian Perkara) setelah ngumpulin teman-temannya, mereka kelokasi dimana Udin dan sikakek bersua, mereka tampak marah melihat kejadian itu, ya marah dengan si Udin, begitulah orang tua punya pesona, nenek mau nyebrang jalan saja, orang yang didekatnya langsung ada iba bantuin nyebrang, itu pun yang belum kenal saja umumnya begitu, apalagi sikakek ini yang sudah dikenal orang disekelilingnya. Itulah karunia Allaah kpada para manula yang kesulitan, maka Kebayang deh nasib si Udin..Udin khawatir kan dikeroyok bagai maling jalanan, tetapi saat itu sikakek bergegas menenangkan mereka dan mengajak mereka menjauh dari udin, mereka beranjak keluar dari area Musholla, dan akhirnya udin yang sendiri dan bingung, naluri dan hati kecilnya lalu meneruskan kembali kemusholla, ia ingin menenangkan diri dan juga bagian strategi karena kecil kemungkinan orang mau bikin ribut dimusholla akibat kejadian itu, Masjid dan Musholla, tempat ibadah Allah punya kharisma tersendiri bagi yang ingin meneduhkan hati dan fikiran

Akhirnya Udin bisa melepas penat dan kegalauan di Musholla, letih secara psikis ternyata sangat menyenangkan ditempat itu, adem dan segar walau ia hanya duduk-duduk diemperan Musholla, kepalanya bersandar ditiang menikmati angin sepoy-sepoy menambah kesejukan.
Duh gak punya duit, gak bisa mulih pulang kerumah nih, mana pulsa habis lagi..apes bener ini hari ya, ehm..sudah takdir, mmh takdir ya ?.. ia jadi teringat kata-kata takdir kakek pengemis yang ditabraknya. Ya takdir sangat kuat membawa si Udin, dan ini seakan menyadarkannya perlahan apalagi beruntun ia mengalami kejadian yg menurutnya apes. Dan tak dapat ditolaknya dan diperkirakannya.

Apes sebuah ungkapan yg ia belum fahami bahwa ada hikmah dibaliknya, maklumlah ilmunya belum sampe, jadi si Udin menghadapi apa adanya, salah menyikapi.
Dimusholla ada ketengangan, beruntunglah hati kecilnya si Udin menuju ke musholla, hati kecil yang ia turuti, tidak gerah saat melihat musholla, dan disana membuatnya tenang, ketenangan seringkali membuat orang yang kalut menjadi bisa berfikir jernih, belajar memahami kejadian. Terbukti ia kepikiran soal takdir.

Sesaat kemudian, ia tampak mengamati BB nya yang butut.

Mmmh gimana jika ini BB digadai saja.. lalu ia menoleh kekanan kiri mengamati sentra-sentra jualan, siapa tahu ada toko HP bersedia menampung BB nya sementara, buat ongkos pulang, nah besoknya ditebus dah..pikir Udin. Ia lalu jentikan jari seakan mendapat ide cemerlang, yess..solusi bisnis nih.. ujarnya bagai para motivator ngasih seminar.

Seringkali orang mencari motivator dan mengesampingkan Allah, maka beruntunglah motivator bisnis yang suka melibatkan Allah.

Ketika mengamati sekelilingnya mencari toko HP, mendadak udin melihat beberapa buah sosok..ya sebuah penampakan yang membuat ia was-was, disana nampak si Kakek dan beberapa tukang ojek menghampiri Musholla yang si Udin duduk diemperannya.

Udin kaget, heran dan menerka-nerka mengapa beberapa mahluk yang tadi berurusan dengannya dan sudah clear tiba-tiba datang menghampiri dirinya…Duh, Ada apa ya, kirain udah selesai, sepertinya mereka tidak terima nih makanya mau ketemu bicara lagi kali..Ucap Si Udin cemas memelas.

Udin mencari akal, kefikiran ia lebih baik shalat saja dan berdoa atau zikir siapa tau mereka akan iba. Tetapi keterbatasan dan kekalutan membuat ia bertanya, Shalat apaan ya, ini kan jam 9 pagi, mana waktu dzuhur jam 12san lagi..waduuh, ujar Udin cemas. Kemudian Udin berpura-pura tidur disana, ia pasrah akan apa yang terjadi, keberadaannya dimusholla menjadi hiburan tersendiri, karena mana mungkin saya dipukulin dimusholla..kecil kemungkinan..fikirnya. Seharusnya Udin lebih bertawakkal kepada pemilik Rumah tempat shalat ini yaitu Allah, memang masjid dan masjid lebih adem dibanding tempat-tempat lainnya, karena keberkahan sering dipakai shalat, ngaji, dakwah, dzikir, jelas berbeda dengan tempat selainnya.

Sedikit kasus orang yang mau ribut dimasjid, walaupun ada tetapi jarang sekali, terlebih di Musholla udin dimana disekelilingnya banyak pedagang, orang berlalu lalang, akan banyak perhatian, pastilah membuat mereka berfikir untuk buat ribut dan kasus si Udin pun hanya menabrak sikakek…paling banter benjol, gak apa2 deh ujar Udin lalu ia pasang aksi tidur dengan bersandar ditiang Musholla, sambil baca-bacaan istighfar…biasa orang bila kepepet ia langsung ingat Allah, orang yang kejepit ia langsung takbir, zikiran sebisanya, andai semua bisa kita lakukan zikir setiap saat, waktu fana ini akan terisi dengan amal shaleh dan kesulitan akan menjadi ringan dihadapi.

Udin dalam keadaan mata terpejam, tetap mengawasi. Nampaknya mereka memang menndekat kearahnya, bahkan sampai disampingnya, namun mereka bercakap-cakap sambil jalan tidak ada topik yang mengarah kepada keributan, walau sejenak ada sebutan soal dirinya yang ketiduran..namun gak jelas, karena disekelilingnya berisik. Dan mereka nampak berlalu, udin nandain dan membuka matanya perlahan, lalu celingak celinguk..aman. Kemudian ia memeriksa sepatunya, ingin segera bergegas dari sana, tiba-tiba matanya tertuju kebawah dimana ada selembar gocapan, alias lima puluh ribu. Ia mengambil uang tersebut, wajahnya heran disusul sumringah, Betapa girangnya si Udin mendapat uang, jumlah yang teramat besar baginya karena artinya hari itu ia bisa pulang, plus bisa membelikan emaknya pisang molen, dan beli pulsa untuk ijin kekantornya ..Alhammdulillaah Ujar Udin

Tetapi..ini uang milik siapa, kok pas ada didekat sepatunya, disitu si Udin bimbang, jangan-jangan milik sikakek cs yang barusan lewat, kalo dia segera pergi maka ia tak ubahnya seperti maling kepagian, apa ini rizki atau ujian ngembaliin uang orang ?, disitu udin bimbang sangat, tetapi dirinya harus gentle walau bagaimanapun uang tersebut harus ditanyain asalnya, ia menghela nafas panjang, sambil menatap langit dan berujar…Yaa Allah, gimana ini ?..hiks (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s